Pengelola website terkadang menerbitkan konten yang sama atau sangat mirip pada lebih dari satu domain. Situasi ini dapat muncul ketika perusahaan memiliki beberapa website, menerbitkan ulang artikel pada platform lain, atau memindahkan konten ke domain baru. Tanpa pengaturan yang tepat, mesin pencari dapat menemukan beberapa URL dengan isi serupa dan kesulitan menentukan halaman utama yang sebaiknya ditampilkan.

Pengaturan canonical lintas domain membantu pengelola memberikan sinyal kepada mesin pencari tentang URL pilihan di antara beberapa halaman yang memiliki konten serupa. Teknik ini dapat mendukung pengelolaan SEO, terutama ketika konten tersedia pada domain berbeda. Namun, pengelola perlu memahami fungsi dan batasannya agar tidak salah menerapkan tag canonical.

Mengenal Canonical Lintas Domain

Canonical lintas domain atau cross-domain canonical merupakan penggunaan tag canonical pada sebuah halaman untuk menunjuk URL utama yang berada di domain lain. Pengelola biasanya menambahkan tag tersebut pada bagian HTML halaman.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan menerbitkan artikel pada website-a.com dan menyalin artikel yang sama ke website-b.com. Jika perusahaan ingin menjadikan halaman pada domain A sebagai versi utama, pengelola dapat memasang tag canonical pada halaman domain B yang mengarah ke URL artikel di domain A.

Dengan cara tersebut, pengelola memberikan petunjuk kepada mesin pencari bahwa halaman pada domain A merupakan versi yang mereka prioritaskan. Google masih dapat memilih URL lain jika sinyal yang tersedia menunjukkan pilihan berbeda.

Mengapa Pengaturan Canonical Lintas Domain Penting

Misalnya, perusahaan memublikasikan artikel lengkap pada website resmi, lalu menayangkan salinan artikel pada portal mitra untuk menjangkau pembaca tambahan.

Tanpa pengaturan yang jelas, mesin pencari perlu mengevaluasi beberapa URL dengan isi serupa. Tag canonical membantu pemilik konten menunjukkan halaman yang mereka anggap sebagai sumber utama.

Selain itu, pengaturan ini mendukung konsistensi sinyal URL. Pengelola dapat memberi petunjuk agar mesin pencari mengaitkan konten duplikat dengan halaman pilihan. Namun, canonical tidak menjamin peningkatan peringkat dan tidak menggantikan kebutuhan untuk membuat konten yang bermanfaat bagi pembaca.

Teknik ini juga tidak cocok untuk semua situasi. Jika dua halaman memiliki tujuan, isi, atau manfaat yang berbeda, pengelola sebaiknya tidak memaksakan canonical lintas domain hanya untuk menggabungkan sinyal SEO.

Cara Menerapkan Canonical Lintas Domain

Tentukan URL utama

Langkah pertama, pilih halaman yang benar-benar menjadi sumber utama konten. Pertimbangkan kelengkapan informasi, tujuan penerbitan, kepemilikan konten, dan rencana jangka panjang website.

Pastikan URL pilihan dapat diakses dengan baik, menghasilkan respons HTTP yang sesuai, serta tidak mengarah ke halaman lain melalui pengalihan. URL utama juga sebaiknya memiliki konten yang relevan dengan halaman yang menunjuknya.

Tambahkan tag canonical

Setelah menentukan URL utama, tambahkan tag canonical pada bagian <head> HTML halaman salinan. Sebagai contoh, halaman pada domain B dapat menggunakan kode berikut:

<link rel="canonical" href="https://website-a.com/artikel-utama/" />

Ganti alamat contoh tersebut dengan URL utama yang sebenarnya. Pastikan pengelola memasang tag pada halaman yang tepat dan tidak menggunakan alamat yang keliru akibat kesalahan penyalinan.

Jika website menggunakan sistem pengelolaan konten atau CMS, periksa pengaturan SEO yang tersedia. Beberapa platform memungkinkan pengelola memasukkan URL canonical tanpa mengubah kode secara langsung.

Periksa konsistensi sinyal URL

Selanjutnya, pastikan sitemap, tautan internal, dan pengaturan canonical mendukung URL utama yang sama. Jika pengelola memilih halaman domain A sebagai versi utama, jangan terus mengarahkan sebagian besar tautan internal ke salinan pada domain B tanpa alasan yang jelas.

Periksa juga apakah halaman utama menggunakan canonical yang sesuai dengan kebijakan website. Hindari rangkaian canonical yang saling menunjuk atau mengarah ke URL yang tidak relevan karena pola tersebut dapat membingungkan mesin pencari.

Uji hasil penerapan

Setelah memasang tag, buka sumber HTML halaman untuk memastikan canonical muncul dengan benar. Pengelola juga dapat menggunakan fitur inspeksi URL pada Google Search Console untuk memeriksa informasi pengindeksan halaman yang tersedia.

Perlu diingat, Google mungkin memilih canonical berbeda dari pilihan pengelola. Karena itu, periksa URL canonical yang dinyatakan pengguna dan URL canonical yang dipilih Google jika laporan tersebut tersedia. Jika hasilnya berbeda, evaluasi kembali kesamaan konten, tautan internal, pengalihan, serta konsistensi sinyal lainnya.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

Kesalahan pertama adalah memasang canonical lintas domain pada halaman yang sebenarnya memiliki isi berbeda. Tindakan ini dapat mengirimkan sinyal yang tidak sesuai dengan hubungan antarkonten.

Kesalahan berikutnya adalah menggunakan canonical sebagai pengganti redirect saat memindahkan seluruh website secara permanen. Untuk perpindahan URL yang memang harus mengarahkan pengunjung ke alamat baru, pengelola perlu mempertimbangkan redirect yang sesuai.

Selain itu, jangan menganggap canonical sebagai alat untuk menghapus halaman dari indeks secara pasti. Tag ini membantu menentukan URL pilihan, tetapi Google tetap mengambil keputusan berdasarkan berbagai sinyal yang tersedia.

Kesimpulan

Pengaturan canonical lintas domain membantu pemilik website menunjukkan URL utama ketika mereka menerbitkan konten yang sama atau sangat mirip pada domain berbeda. Untuk menerapkannya, tentukan halaman utama, pasang tag canonical dengan benar, jaga konsistensi sinyal URL, dan periksa hasilnya secara berkala.

Jika pengelola ingin memahami strategi optimasi teknis secara lebih luas, layanan jasa seo website dapat menjadi salah satu referensi untuk mempelajari pengembangan SEO sesuai kebutuhan website.